

Banda Aceh – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Nusantara Banda Aceh kembali menggelar Kuliah Umum dengan menghadirkan dua pakar terkemuka dari kampus besar di Aceh, yakni Saiful Mahdi, Ph.D. (Universitas Syiah Kuala/USK) dan Dr. Chairul Fahmi, MA (UIN Ar-Raniry).
Dalam pemaparannya, Saiful Mahdi, Ph.D. menyoroti bagaimana ungkapan klasik “Knowledge Is Power” telah melahirkan relasi kuasa yang erat kaitannya dengan dominasi teknologi. Menurutnya, teknologi tidak pernah bersifat netral, melainkan sarat dengan kepentingan politik, ekonomi, dan sosial yang sering kali membentuk pola ketergantungan masyarakat.
“Teknologi bisa menjadi instrumen pembebasan, tetapi sekaligus juga instrumen dominasi. Karena itu, pengetahuan harus ditempatkan secara kritis agar tidak sekadar menjadi alat reproduksi hegemoni,” jelas Saiful Mahdi di hadapan mahasiswa STAI Nusantara.
Sementara itu, Dr. Chairul Fahmi, MA membedah konsep “Knowledge Is Power” dari perspektif epistemologi Islam dan etika. Ia menekankan bahwa dalam tradisi Islam, pengetahuan tidak hanya dipandang dari sisi rasionalitas dan utilitas, tetapi juga terkait erat dengan nilai moral serta tanggung jawab sosial.

“Dalam Islam, pengetahuan bukan sekadar kekuasaan, tetapi juga amanah. Etika menjadi pilar penting dalam mengelola ilmu agar tidak menjurus pada kesewenang-wenangan. Dekonstruksi pengetahuan harus dilakukan dengan mengembalikan ilmu kepada nilai-nilai ilahiah,” ungkap Chairul Fahmi.
Kuliah umum ini mendapat sambutan antusias dari ratusan mahasiswa dan dosen STAI Nusantara. Diskusi interaktif berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan kritis mengenai peran teknologi dalam kehidupan sehari-hari serta relevansinya dengan kajian Islam kontemporer.

Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaaan STAI Nusantara, Muslem menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kampus untuk memperluas wawasan mahasiswa. “Mahasiswa STAI Nusantara harus mampu berpikir kritis, memahami tantangan teknologi, dan tetap berpegang pada etika serta nilai spiritual,” tegasnya.
Dengan menghadirkan dua narasumber dari kampus ternama di Aceh, kuliah umum ini diharapkan mampu memperkaya perspektif mahasiswa mengenai relasi antara pengetahuan, teknologi, dan etika, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan berkarakter[]