

Jantho — Cara paling utama melatih disiplin waktu dengan menjaga shalat lima waktu. Shalat bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi juga sarana membentuk karakter ketaatan, disiplin, dan teratur dalam kehidupan.
Pimpinan Dayah Samudera Pasai Madani Aceh Besar, Tgk. Muhammad Fadhillah Lc, M.Us, menyampikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas Kompek Kantor LAN Aceh, (6/3/2026).
Ia mengutip ucapan ulama besar Syekh Abul Hasan As-Syadzili yang dinukil oleh Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam kitab Tajul Arusy: “Ukurlah dirimu dan timbanglah dengan shalat.”
Ungkapan tersebut menunjukkan, shalat merupakan fondasi dalam membentuk karakter seorang Muslim yang disiplin dan bertanggung jawab dalam mengelola waktu.

Mantan Ketua IKAT Aceh ini mengingatkan umat Islam agar memanfaatkan waktu dan umur yang diberikan Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Ia juga menekankan pentingnya ketakwaan, disiplin waktu, dan istiqamah dalam beramal.
Tgk Muhammad Fadhillah mengutip firman Allah Swt dalam Al-Qur’an: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4).
Menurutnya, ayat tersebut mengingatkan setiap manusia harus menyadari waktu terus berjalan dan usia semakin berkurang. Umur, merupakan modal bagi seorang Muslim untuk meraih kebaikan dan keberkahan hidup.
“Umur karunia Allah yang harus disyukuri dengan memperbanyak amal saleh. Dengan memanfaatkan umur untuk kebaikan, seorang Muslim dapat menjadi manusia terbaik,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia mengutip hadis riwayat Imam At-Tirmidzi yang menyebutkan, manusia terbaik orang yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan manusia yang paling buruk yang panjang umur tetapi buruk amal perbuatannya.
Lebih lanjut, Tgk Fadillah menegaskan, rahmat Allah Swt sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf: 56).
Karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, umat Islam diminta mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Ia menekankan pentingnya istiqamah dalam beramal, meskipun amalan tersebut sedikit.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw: “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit.” (HR. Muslim).
Ia juga mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah yang menekankan pentingnya mengatur waktu sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat.
Menurutnya, pengelolaan waktu tidak hanya berkaitan dengan ibadah mahdhah, tetapi juga mencakup seluruh aktivitas kehidupan sehari-hari.
Selain bekerja dan beribadah, manusia juga perlu memiliki waktu istirahat dan rekreasi agar semangat dalam menjalankan aktivitas kebaikan tetap terjaga.
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh ini di penghujung khutbahnya, mengingatkan umat Islam agar tidak menyia-nyiakan umur yang telah diberikan Allah Swt.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 18 yang menyerukan agar setiap orang beriman memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk kehidupan akhirat.
“Jangan sampai umur yang Allah berikan berlalu tanpa manfaat, apalagi diisi dengan perbuatan durhaka. Mari kita kelola waktu dengan baik, menjaga kewajiban terutama shalat, agar hidup kita penuh keberkahan,” ungkapnya.
Ia berharap dengan disiplin menjalankan shalat dan mengelola waktu secara baik, umat Islam dapat menjadikan umur yang dimiliki sebagai umur yang berkah dan dipenuhi amal kebaikan. (*)