6 Mar 2026 20:37 - 5 menit membaca

Ramadhan di Era Distraksi Digital

Bagikan

Ramadhan kini telah memasuki separuh kedua. Secara fisik, umat Islam terbukti mampu menahan lapar dan haus. Namun, muncul pertanyaan reflektif: seberapa kuat kita menahan diri dari godaan yang lebih halus namun tak kalah dahsyat, yakni godaan untuk terus-menerus menatap layar ponsel? Fenomena ini layak direnungkan bersama.

Di masjid-masjid, kita melihat jamaah berbondong-bondong shalat tarawih. Di rumah-rumah, sahur dan berbuka dijalani dengan tertib. Tapi di sela-sela waktu antara subuh dan maghrib, ada ruang sunyi yang sering terisi oleh aktivitas tanpa makna: berselancar di media sosial, menonton video pendek yang berulang, atau sekadar membaca berita tanpa arah yang jelas.

Statistik mencatat, rata-rata orang menghabiskan 5 hingga 7 jam per hari bersama ponselnya. Jika dikalikan 30 hari Ramadhan, totalnya mencapai 150 hingga 210 jam, setara dengan 6 hingga 9 hari penuh tanpa tidur. Di bulan yang setiap detiknya bernilai pahala berlipat ganda, angka ini bukan sekadar angka, ini adalah “pencurian” waktu yang tidak kita sadari. Lantas, di manakah posisi puasa kita dalam pusaran distraksi digital ini?

Puasa: Antara Lapar Fisik dan Lapar Hakiki

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi puasa ke dalam tiga tingkatan. Pertama, puasa awam, yaitu sekadar menahan lapar, haus, dan syahwat. Inilah level mayoritas. Kedua, puasa khusus, di mana seluruh anggota tubuh turut berpuasa. Mata menahan pandangan, telinga menahan pendengaran dari hal sia-sia, lisan terjaga dari ghibah dan dusta. Ketiga, puasa khususul khawash, yaitu puasanya para nabi dan kekasih Allah, di mana hati berpuasa dari memikirkan dunia dan hanya terfokus pada Allah.

Dengan ponsel di tangan sepanjang hari, di level manakah puasa kita hari ini? Jika mata masih leluasa menatap hal yang tidak pantas, telinga masih asyik mendengar gosib musik yang melalaikan, dan jari-jari masih sibuk berkomentar tanpa faedah, maka sesungguhnya kita baru mencapai level “puasa perut”. Lapar terasa, iman tak kunjung kenyang.

Rasulullah SAW memperingatkan dalam hadits riwayat Ibnu Majah ”Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar.” Peringatan ini menjadi sangat relevan di era digital, di mana orang bisa saja sahur dan imsak dengan sempurna, namun pikirannya seharian tersedot ke dalam pusaran konten tanpa makna.

Pahala yang Abstrak dan Ujian Keimanan

Pertanyaan berikutnya, mengapa kita begitu mudah meremehkan pahala? Jawabannya sederhana, pahala itu bersifat abstrak, ghaib. Ia tidak kasat mata, tidak bisa disentuh, tidak bisa dijadikan alat tukat untuk berbelanja. Berbeda dengan uang yang bisa langsung terasa manfaatnya.

Coba bayangkan dengan skenario berbeda. Jika  pahala berbentuk materi, misalnya membaca satu ayat Al-Qur’an diberi imbalan Rp100.000 yang langsung masuk rekening, atau shalat tarawih satu rakaat dihargai voucher belanja Rp1.000.000, atau menahan diri dari scroll TikTok bertambah saldo DANA Rp500.000, bagaimana kira-kira semangat ibadah kita? Pasti kita akan berlomba-lomba. Kita akan membaca Al-Qur’an berjuz-juz, shalat sampai kaki bengkak, dan mematikan ponsel sebulan penuh atau bahkan membuang ponsel ke sungai.

Tapi Allah tidak menjanjikan itu. Yang dijanjikan jauh lebih besar, namun tidak kasat mata. Dalam hadits qudsi riwayat Muslim, Allah berfirman: ”Setiap amalan anak Adam dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Bayangkan, satu kebaikan bisa berlipat hingga 700 kali. Puasa bahkan dirahasiakan langsung balasannya oleh Allah, nilainya jauh melampaui angka 700. Inilah ujian keimanan: beribadah kepada yang ghaid, mengharap sesuatu yang tak terlihat, meyakini bahwa di akhirat nanti pahala itu akan menjadi kekayaan yang sangat nyata.

Andaikan di hari kiamat nanti pahala diubah menjadi bentuk yang bisa dilihat, kita akan terkejut. Orang-orang yang puasanya berkualitas akan keluar dari Ramadhan sebagai konglomerat akhirat, membawa simpanan pahala yang melimpah, yang bisa menebus siksa dan mengangkat derajat di surga. Sementara mereka yang sibuk dengan ponsel, yang waktunya habis untuk hal sia-sia, akan keluar sebagai fakir pahala. Lapar sudah hilang karena berbuka, tapi kantong pahala tetap kosong.

Smartphone: Pencuri Waktu dan Keberkahan

Kesadaran tentang mahalnya nilai waktu inilah yang mengantarkan kita pada pemahaman bahwa smartphone bisa menjadi “pencuri” paling profesional di bulan Ramadhan. Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata: ”Aku mendapati orang-orang saleh terdahulu, mereka lebih pelit terhadap waktu mereka daripada mereka pelit terhadap uang dinar dan dirham mereka.” 

Subhanallah. Kita sangat perhitungan jika Rp10.000 keluar dari dompet. Tapi kita biarkan waktu berjam-jam berlalu tanpa hasil, tidak merasa kehilangan. Padahal waktu adalah modal utama di dunia, dan waktu di bulan Ramadhan adalah modal utama meraih takwa.

Setiap kali kita membuka ponsel untuk “sebentar” cek notifikasi, setengah jam kemudian kita masih bergelut dengan konten beruntun. Setiap kali berniat mencari resep berbuka, algoritma membawa kita berkelana ke video lucu, gosip artis, dan konten tanpa faedah lainnya. Setiap kali setelah subuh berniat tadarus, godaan membuka media sosial membuat kita lupa waktu hingga matahari terbit.

Apa yang dicuri ponsel kita? Waktu berkualitas, kekhusyukan hati, konsentrasi pikiran, dan yang paling mahal adalah keberkahan Ramadhan yang seharusnya turun di setiap detik kehidupan kita.

Penutup: Menjadi Alumni Pesantren Ramadhan yang Kaya Raya

Pada akhirnya, Ramadhan adalah madrasah takwa. Bulan di mana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan Lailatul Qadar (malam yang lebih baik dari seribu bulan) menanti di penghujungnya. Sayang jika kita keluar dari madrasah ini hanya dengan ijazah “tahan lapar dan haus”, tanpa peningkatan kualitas takwa.

Pahala memang abstrak hari ini. Tapi di akhirat nanti, ia akan menjadi kekayaan yang sangat nyata: cahaya di alam kubur, naungan di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, penolong saat harta dan anak cucu tak lagi berguna.

Mari jadikan sisa Ramadhan ini sebagai momentum melepaskan belenggu digital. Kembalikan fokus pada Allah. Keluar dari bulan suci sebagai alumni pesantren Ramadhan yang kaya raya kaya akan pahala, kaya akan amal, kaya akan keberkahan. Bukan sekadar orang yang kuat menahan lapar, tapi lemah mengendalikan diri dari godaan layar.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Wakil Ketua I STAI Nusantara : Tgk. Muslem Adamy, S.Pd.I, MA