21 Agu 2025 18:19 - 4 menit membaca

Ambisi Jabatan Melahirkan Tujuh Penyimpangan

Bagikan

Dalam kehidupan sosial-politik kita, jabatan sering dipandang sebagai simbol kehormatan dan puncak pencapaian karier. Orang berlomba-lomba mengejarnya, bahkan tidak jarang rela mengorbankan segala sesuatu yang ia miliki demi sebuah kursi. Padahal, Al-Qur’an telah mengingatkan dengan tegas:

“Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya” (QS. An-Nahl: 95).

Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang bersifat duniawi, termasuk jabatan, sesungguhnya tidak sebanding dengan nilai ridha Allah. Maka ketika manusia menjadikan jabatan sebagai tujuan utama, bukan lagi sebagai amanah, ia hampir pasti akan tergelincir dalam penyimpangan.

Menurut hemat saya, ambisi itu bukan sesuatu yang salah. Tanpa ambisi, manusia akan stagnan, tidak berkembang, dan kehilangan motivasi untuk berkarya. Akan tetapi, ketika ambisi berubah menjadi nafsu, ketika jabatan dikejar tanpa pertimbangan etika dan iman, di situlah tragedi manusia bermula. Banyak orang yang tampaknya berwibawa di mata publik, namun sesungguhnya hancur di dalam karena telah menggadaikan prinsip.

Sejarah, baik klasik maupun modern, penuh dengan contoh betapa ambisi jabatan mampu meruntuhkan martabat manusia. Dari kisah penguasa lalim hingga praktik politik kotor hari ini, kita melihat pola yang sama: orang tergoda oleh kursi, lalu melupakan amanah. Rasulullah ﷺ pun sudah memperingatkan:

“Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah, dan pada hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang menunaikan kewajiban kepemimpinan dan menjalankannya dengan benar.” (HR. Muslim).

Hadis ini memberi pesan moral yang sangat jelas: jabatan bukanlah kehormatan, melainkan beban tanggung jawab. Sayangnya, realitas menunjukkan banyak yang tergelincir. Setidaknya ada tujuh bentuk penyimpangan yang lahir dari ambisi jabatan, yang menurut saya layak direnungkan bersama.

Pertama, mengorbankan kebenaran.

Inilah penyakit yang paling sering terjadi. Demi mempertahankan posisi, ada yang tega memutarbalikkan fakta, menutup-nutupi kebenaran, bahkan menyebarkan kebohongan. Padahal, kejujuran adalah fondasi utama seorang pemimpin. Jika kebenaran dikorbankan, maka seluruh kebijakan hanya berdiri di atas pasir rapuh.

Kedua, menjilat atasan.

Saya melihat fenomena ini makin marak di berbagai institusi. Demi disukai atasan, ada yang rela menutup mata dari kesalahan, bahkan menyanjung secara berlebihan. Akhirnya lahirlah budaya munafik: bawahan tak lagi berani jujur, atasan merasa selalu benar, dan sistem berjalan di atas kepalsuan.

Ketiga, menjatuhkan teman sejawat.

Ambisi sering mengubah saudara menjadi pesaing. Fitnah, gosip, dan sabotase dilakukan demi menyingkirkan lawan. Ukhuwah Islamiyah yang seharusnya dijaga justru dikorbankan. Saya meyakini, ketika lingkungan kerja diwarnai budaya saling menjatuhkan, maka organisasi akan kehilangan ruh kebersamaan.

Keempat, menghalalkan segala cara.

Ini adalah bentuk penyimpangan paling vulgar. Ada yang rela menyuap, memanipulasi, bahkan bersekongkol dengan pihak zalim. Prinsip “tujuan menghalalkan cara” dijadikan pegangan, padahal Islam menolak logika semacam itu. Kebaikan sejati hanya lahir dari cara yang baik.

Kelima, mengorbankan integritas pribadi.

Dalam banyak kasus, ambisi membuat seseorang menutup hati nurani. Ia tahu yang ia lakukan salah, namun memilih diam atau ikut arus. Lama-kelamaan, integritasnya terkikis. Bagaimana mungkin seorang pemimpin dihormati jika dirinya sendiri telah kehilangan kejujuran?

Keenam, mengorbankan keluarga.

Banyak orang yang sibuk mengejar jabatan sampai melupakan keluarga. Anak-anak kehilangan kasih sayang, pasangan kehilangan perhatian, dan rumah tangga retak. Saya sering berpikir, apa arti sebuah jabatan jika akhirnya kita kehilangan orang-orang terdekat yang menjadi amanah pertama dari Allah?

Ketujuh, mengkhianati Tuhan.

Ini adalah puncak segala penyimpangan. Ada orang yang lebih takut kehilangan kursi daripada kehilangan ridha Allah. Ia rela melanggar syariat, mengabaikan ibadah, bahkan melakukan dosa besar demi mempertahankan jabatan. Padahal, jabatan hanya sementara, sementara hisab di akhirat bersifat kekal.

Dalam pandangan saya, jabatan itu tidak salah. Ia bisa menjadi sarana ibadah, ladang amal, dan kesempatan menebar manfaat, asalkan diraih dengan cara yang benar dan dijalankan dengan penuh amanah. Yang salah adalah ketika jabatan dijadikan tujuan hidup, sementara nilai-nilai agama dan moral diabaikan.

Lebih terhormat kehilangan jabatan karena berpegang pada kebenaran, daripada meraihnya dengan jalan kotor. Jabatan bisa hilang sewaktu-waktu, tetapi harga diri, integritas, dan iman adalah warisan abadi yang tak boleh tergadai. Oleh sebab itu, setiap orang yang berambisi hendaknya mengukur dirinya: apakah ia mengejar jabatan untuk melayani, atau sekadar untuk dimuliakan?

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kekurangan orang yang mau jujur dan berintegritas. Jika ambisi jabatan terus dikejar dengan mengorbankan prinsip, kita hanya akan melahirkan pemimpin yang zalim dan pengikut yang munafik. Karena itu, ambisi perlu diarahkan, bukan dibiarkan liar. Biarlah jabatan menjadi jalan menuju ridha Allah, bukan jalan menuju kehinaan.

Dr. Tgk. Saiful Bahri, MA Elbahry Spn Aceh Di Bale Seumike