

Jakarta- Pelatihan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) yang digagas oleh Kementerian Kesehatan membawa harapan baru dalam dunia pendidikan. Di tengah suasana kelas yang selama ini identik dengan hafalan dan angka, pelatihan ini menanamkan kepedulian emosional sejak dini kepada guru dan siswa. P3LP bukanlah terapi profesional, melainkan pendekatan sederhana yang memungkinkan siapa saja hadir sebagai penolong pertama bagi individu yang mengalami tekanan emosional, cukup dengan mendengarkan tanpa menghakimi.
Melalui konsep zona emosi — hijau, biru, kuning, dan merah — P3LP membantu mengidentifikasi kondisi mental seseorang serta mendorong intervensi dini. Prinsip 3M yang menjadi fondasi pelatihan ini mencakup Memperhatikan gejala stres, Mendengarkan dengan empati, dan Menghubungkan ke bantuan profesional. Peran guru, teman, atau bahkan rekan kerja menjadi penting dalam mencegah krisis emosional yang lebih dalam. Pelatihan ini bertujuan menanamkan kesadaran bahwa setiap individu bisa menjadi jembatan menuju pemulihan.
Sekolah didorong menjadi ruang aman mental, bukan hanya bagi siswa tapi juga bagi para guru. Guru yang datang dengan hati yang bahagia akan menularkan energi positif kepada siswanya. Di samping itu, keterlibatan keluarga melalui pola asuh positif juga dinilai krusial. Menurut Yunita Restu Safitri dari Kemenkes RI, P3LP berperan membentuk generasi yang empatik dan tangguh secara mental. Ia menutup sesi dengan pesan kuat: “Mari jadi penolong pertama, bukan penghakim pertama, karena satu telinga yang tulus bisa menyelamatkan satu hati yang hampir menyerah.
