14 Nov 2025 10:59 - 2 menit membaca

Melestarikan Tradisi Salam: Merawat Kearifan Lokal Islam di Era Global

Bagikan

Dalam perkembangan dunia global yang terbendung, nilai-nilai Islam yang terangkum dalam kearifan lokal justru menawarkan keteduhan dan kedamaian. Demikian terungkap dalam Seminar Internasional Global Islamic Leadership yang digelar di STAI Nusantara Banda Aceh, pentingnya melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Islam ini ke kancah internasional.

Para pakar dan akademisi Internasional hadir STAI Nusantara untuk membahas strategi mengtransformasikan kearifan lokal menjadi identitas global yang relevan, dalam kesempatan Prof. Dr. Mohammad Aderi Che Noh, salah satu pembicara kunci, menegaskan bahwa kearifan lokal Islam merupakan integrasi harmonis antara ajaran Islam dengan budaya setempat. Beliau menyebut tradisi memberi salam saat memasuki rumah bukan sekadar rutinitas, tetapi cerminan nyata dari keindahan dan kesantunan ajaran Islam. Nilai-nilai semacam ini perlu dilestarikan, bersama dengan tradisi acehanlain yang ada dalam pesantren, yang menawarkan Islam Wasathiyah, membentuk identitas keislaman yang khas dan penuh toleransi.

Pentingnya nilai-nilai ini tidak berhenti pada tingkat lokal saja. Menurut Prof. Aderi, di era digital yang tanpa batas ini, kearifan lokal Islam justru harus diangkat ke tingkat global. Dengan demikian, nilai-nilai luhur tersebut dapat dikenal dan dikaji lebih luas oleh komunitas internasional, sehingga tidak hanya menjadi kekuatan lokal tetapi juga inspirasi global. sehingga nantinya akan banyak masyarakat dunia tertarik dengan Islam

Sementara dalam hal sama Asst. Prof. Mohamadare Waeno menambahkan bahwa upaya promosi ini perlu didukung oleh pemanfaatan media global dan publikasi internasional. Publikasi ilmiah, partisipasi dalam konferensi global, serta penyebaran kisah sukses toleransi lokal menjadi sarana efektif untuk menunjukkan kepada dunia bagaimana masyarakat Muslim hidup dalam kerukunan dan keharmonisan.

Melalui pendekatan yang komprehensif ini, mobilitas mahasiswa internasional tidak sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi juga berperan sebagai diplomasi budaya. Setiap mahasiswa yang terlibat dalam program internasional dapat menjadi duta yang mempromosikan citra Islam yang inklusif dan meneduhkan.

Seminar Global Islamic Leadership yang digelar di STAI Nusantara, ini menjadi langkah strategis dalam merawat warisan kearifan lokal Islam sambil membuka peluang untuk kontribusi yang lebih besar di tingkat global. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, nilai-nilai Islam yang tercermin dalam tradisi sederhana seperti memberi salam dapat menjadi inspirasi bagi peradaban global yang lebih harmonis.[]