

BANDA ACEH – Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melaïnkan sebuah madrasah spiritual untuk mencapai derajat tertinggi di sisi Allah, yakni ketaqwaan. Begitu sentralnya konsep takwa ini, hingga Allah SWT menyebutkan terminologi “takwa” sebanyak 258 kali di dalam Al-Qur’an.
Direktur LPI Uswatun Hasanah sekaligus Guru Dayah Terpadu Inshafuddin Banda Aceh, Tgk Fauzi Arsali, SH. MH, menjelaskan bahwa panduan komprehensif mengenai takwa tertuang jelas dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 hingga 187. Menurutnya, rangkaian ayat tersebut merupakan satu kesatuan panduan
n yang tidak dapat dipisahkan.
“Allah memberikan panduan yang sangat sistematis bagi hamba-Nya yang ingin meraih derajat ketaqwaan melalui empat jalur utama,” ujar Tgk Fauzi dalam pesan hikmahnya
Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an
“Membaca dan mentadabburi Al- Qur’an adalah jalan kedua. Kita harus memperbanyak interaksi dengan kitab suci ini agar cahaya hidayah membawa kita pada derajat takwa,” jelasnya
Ketakwaan juga dibentuk melalui komunikasi batin yang kuat dengan Tuhan. Dalam ayat 186, Allah menegaskan kedekatan-Nya kepada hamba yang berdoa. Tgk Fauzi mengingatkan
bahwa momentum Ramadan adalah waktu terbaïk untuk bermunajat, mengadu, dan memohon ampunan secara langsung kepada Allah yang Maha Dekat.
Artinya : Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid

yakni anjuran beritikaf di masjid. Menjauhkan diri sejenak dari kesibukan duniawi untuk perdiam diri di rumah Allah merupakan pilar penyempurna dalam proses pencarian takwa.
“Empat amalan ini–puasa, membaca Al- Qur`an, berdoa, dan itikaf-adalah kurikulum yang Allah berikan agar kita tidak sekadar melewati Ramadan tanpa bekas, melainkan
keluar sebagai pribadi yang benar-benar bertaqwa,”‘ pungkas Tgk Fauzi Arsali.
Penulis: Tgk Fauzi Arsali, SH. MH (Direktur LPI Uswatun Hasanah & Guru Dayah Terpadu Inshafuddin Banda Aceh)