

Aceh dikenal luas sebagai Serambi Mekkah, sebuah sebutan yang menggambarkan kuatnya penerapan nilai-nilai Islam di wilayah ini. Pemerintahan Aceh berpusat di Kota Banda Aceh, yang dulunya merupakan sebuah negeri tersendiri dengan peran penting dalam sejarah perkembangan Islam di Asia Tenggara. Banda Aceh menjadi pusat Kesultanan Aceh Darussalam sejak abad ke-14, dipimpin oleh para sultan yang menjadikan kota ini sebagai pusat peradaban Islam di kawasan tersebut. Kala itu, Banda Aceh juga menjadi pelabuhan penting yang kerap dikunjungi para pedagang dari Arab, Cina, hingga Eropa.
Tak hanya dikenal sebagai kota Islam tertua di kawasan ini, Aceh juga mencatat sejarah panjang sebagai pintu masuk penyebaran Islam di Nusantara. Menariknya, Kesultanan Aceh dibangun di atas puing-puing peradaban Hindu-Buddha yang lebih dulu berkembang, seperti Kerajaan Indrapatra, Indrapurwa, dan Indrapura. Sisa-sisa kejayaan ketiga kerajaan tersebut hingga kini masih dapat dijumpai di wilayah pesisir Banda Aceh dan Aceh Besar.
Di samping warisan sejarahnya yang kaya, Aceh juga dikenal dengan keanekaragaman suku, budaya, dan tradisi. Keanekaragaman tersebut tercermin dalam tarian, kerajinan tangan, bahasa, pakaian adat, serta kuliner tradisional. Salah satu bentuk ekspresi budaya yang menonjol terlihat dalam perayaan hari-hari besar Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Pada tahun 2025, Idul Adha diperingati pada tanggal 6 Juni, atau bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1446 Hijriah. Masyarakat Aceh menyambutnya dengan penuh semangat dan kekhusyukan.
Sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 34:

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk (patuh) kepada Allah.”
Ayat ini menegaskan bahwa menyembelih hewan kurban dengan niat karena Allah merupakan wujud syukur dan kepasrahan seorang hamba atas nikmat yang diberikan. Kurban menjadi simbol pengorbanan serta rezeki yang tidak akan mengurangi ketentuan Allah, meskipun dibagi dan disedekahkan kepada yang membutuhkan.
Salah satu tradisi khas Aceh yang berkaitan erat dengan penyambutan hari raya adalah Meugang atau Makmeugang. Tradisi ini berupa penyembelihan hewan seperti sapi atau kambing yang kemudian dimasak dan disantap bersama keluarga, tetangga, dan anak-anak yatim. Meugang dilakukan menjelang Idul Fitri dan Idul Adha. Tidak memasak daging pada hari Meugang dianggap sebagai hal yang janggal dan menyimpang dari kebiasaan masyarakat.
Meski secara lahiriah Meugang tidak memiliki keistimewaan ritual tertentu, ia menjadi sarana memperkuat silaturahmi keluarga. Anggota keluarga yang merantau biasanya akan pulang kampung untuk merayakan Meugang bersama. Tradisi ini bukan hanya soal menikmati daging, tetapi menjadi momen sakral untuk mempererat ikatan batin.
Puncak dari perayaan Meugang adalah ketika seluruh keluarga duduk bersama menyantap berbagai hidangan daging yang dimasak sesuai selera masing-masing daerah. Selain itu, makanan khas lainnya seperti timphan, leumang, dan tapai ketan turut memeriahkan meja makan sebagai sajian penutup. Tradisi Meugang menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Aceh memadukan nilai-nilai Islam, budaya, dan kekeluargaan dalam satu harmoni menyambut hari raya kurban.