

Ramadhan bukan sekadar bulan ritual, melainkan musim penyucian. Ia hadir setiap tahun bukan hanya untuk mengubah jadwal makan dan tidur kita, tetapi untuk menggugat cara kita hidup. Dalam bahasa para arif, Ramadhan adalah madrasah tazkiyah; proses membersihkan jiwa dari karat dunia yang menempel perlahan, tanpa kita sadari.
Kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi bergerak lebih kencang daripada kebijaksanaan. Media sosial membentuk opini sebelum akal sempat merenung. Dunia modern menawarkan kenyamanan, tetapi sekaligus melahirkan kegelisahan yang tak terdefinisi. Banyak orang sukses secara materi, namun miskin ketenangan. Banyak yang terhubung secara digital, tetapi terasing secara spiritual. Di sinilah urgensi Ramadhan menjadi nyata: ia datang sebagai jeda ilahiah di tengah hiruk-pikuk peradaban.
Tazkiyah bukan sekadar meninggalkan makan dan minum. Ia adalah disiplin batin. Puasa melatih kita menahan yang halal, agar kita lebih mudah meninggalkan yang haram. Ia mengajari kita mengontrol keinginan, bukan dikontrol oleh keinginan. Dalam tradisi tasawuf, jiwa yang tidak dididik akan dikuasai syahwat dan ambisi; sedangkan jiwa yang disucikan akan menjadi cermin bagi cahaya Ilahi.
Modernitas sering kali memanjakan ego. Kita didorong untuk tampil, untuk diakui, untuk dilihat. Bahkan ibadah pun kadang tergelincir menjadi panggung pencitraan. Ramadhan datang untuk membongkar kesombongan yang halus itu. Puasa adalah ibadah tersembunyi; tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang berpuasa dengan jujur kecuali Allah. Di situlah pendidikan keikhlasan bekerja. Jiwa yang bersih tidak sibuk mencari tepuk tangan manusia, karena ia cukup dengan penilaian Tuhannya.

Lebih jauh, Ramadhan juga mengajarkan empati sosial. Ketika kita menahan lapar, kita diingatkan pada mereka yang lapar bukan karena pilihan, tetapi karena keadaan. Dalam konteks masyarakat modern yang diwarnai ketimpangan ekonomi, puasa seharusnya melahirkan solidaritas, bukan sekadar seremoni buka bersama. Zakat, infak, dan sedekah bukan pelengkap, melainkan bagian integral dari tazkiyah. Harta yang dikeluarkan dengan tulus bukan mengurangi, tetapi membersihkan.
Namun tantangan terbesar jiwa modern bukan hanya pada aspek material, melainkan pada distraksi. Kita sulit khusyuk karena pikiran dipenuhi notifikasi. Kita sulit tafakur karena terbiasa dengan kecepatan. Ramadhan mengajarkan perlambatan. Ia memanggil kita untuk kembali pada sunyi. Qiyamullail bukan hanya ibadah malam, tetapi dialog batin yang jujur antara hamba dan Tuhannya. Dalam sujud yang panjang, manusia menemukan dirinya yang rapuh sekaligus mulia.
Tazkiyah juga berarti keberanian untuk mengoreksi diri. Muhasabah adalah tradisi para ulama dan orang-orang saleh. Mereka tidak sibuk menghitung kesalahan orang lain sebelum menghitung kekurangan diri sendiri. Di era yang penuh polarisasi dan saling menyalahkan, Ramadhan seharusnya menumbuhkan kerendahan hati. Jiwa yang bersih tidak mudah mencaci, tidak ringan memfitnah, dan tidak tergesa menghakimi.
Kita juga perlu menyadari bahwa penyakit jiwa modern sering tersembunyi dalam bentuk ambisi yang berlebihan: ingin selalu unggul, ingin selalu dipuji, ingin selalu menang. Padahal Ramadhan mengajarkan kepasrahan. Ketika azan Maghrib berkumandang, kita berbuka bukan karena lapar telah memuncak, tetapi karena Allah mengizinkan. Ada pendidikan ketaatan di sana – bahwa hidup bukan tentang mengikuti selera, melainkan mengikuti petunjuk.
Ramadhan sejatinya adalah latihan kembali kepada fitrah. Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci, namun perjalanan hidup membuat hati ternoda. Puasa, tilawah, doa, dan istighfar adalah sarana pencucian itu. Jika setelah Ramadhan kita tetap keras hati, mudah marah, dan gemar menyakiti, maka boleh jadi yang berubah hanya jadwal makan kita, bukan kualitas jiwa kita.
Sebagai makhluk yang diberikan akal untuk melawan nafsu, kita dituntut untuk tidak berhenti pada simbol. Kita harus memaknai Ramadhan sebagai proyek peradaban. Jiwa-jiwa yang bersih akan melahirkan masyarakat yang adil. Hati yang jernih akan melahirkan kebijakan yang bijak. Tidak ada reformasi sosial tanpa reformasi spiritual. Tazkiyah individu adalah fondasi bagi kebangkitan kolektif.
Akhirnya, Ramadhan bukanlah tujuan, melainkan jalan. Ia datang dan pergi, tetapi nilai-nilainya harus menetap. Modernitas tidak harus kita tolak, tetapi harus kita kendalikan dengan jiwa yang tercerahkan. Di tengah dunia yang terus berubah, Ramadhan mengingatkan bahwa pusat kehidupan tetaplah hati. Jika hati bersih, dunia menjadi sarana; jika hati keruh, dunia menjadi beban.
Semoga Ramadhan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum penyucian yang sungguh-sungguh, sebuah tazkiyah yang menjadikan kita lebih tenang dalam kesibukan, lebih rendah hati dalam keberhasilan, dan lebih dekat kepada Allah dalam setiap langkah kehidupan.
By: Dr. Tgk. Saiful Bahri Ishak, MA
Dosen Program Magister Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Al-Aziziyah Indonedia.
Dan Dosen Luar Biasa (DLB) STAI Nusantara Banda Aceh.