13 Mar 2026 13:52 - 4 menit membaca

Umat Islam Perlu Lakukan Evaluasi Pelaksanaan Ibadah Selama Ramadhan

Bagikan

Aceh Besar — Umat Islam perlu melakukan evaluasi perihal ibadah-ibadah dilakukan selama bulan Ramadhan ini. Sudah benarkah ibadah yang kita lakukan, mulai dari puasa, shalat, zakat, dan lainnya, sebagaimana dimaklumi bahwa, Allah Swt mewajibkan puasa kepada orang beriman bukan untuk menyiksa dengan rasa lapar, dahaga, dan kesukaran.

Kepala UPTD Panti Sosial Anak Jroh Naguna (PSAJN) Dinas Sosial Aceh, Tgk. H. Muhibuthibri, menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di di Masjid As-Sajidin Komplek Tanjung Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar, 13 Maret 2026 bertepatan 23 Ramadhan 1447 H.

“Di balik perintah puasa dan menahan diri dari makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa terdapat banyak hikmah yang dapat mengantarkan manusia kepada kebaikan dan kesempurnaan dalam hidup di dunia ini,” ungkapnya.

Tgk. Muhibuthibri menyampaikan, salah satu hikmah beribadah puasa adalah agar kita bisa menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah swt. Hal ini sejalan dengan tujuan pokok diwajibkannya puasa kepada orang-orang yang beriman yaitu agar mereka bisa menjadi hamba yang bertakwa.

Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an: Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sbelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al-Baqarah: 183).

Menurutnya, ayat di atas memiliki nilai agung dan mulia, bahwa puasa seharusnya bisa menjadi mediator bagi kita semua untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Dengan berpuasa, seseorang sudah berkomitmen menyempurnakan ketakwaannya, sebagaimana devinisi dari takwa itu sendiri yaitu, mengerjakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Dari tujuan tersebut, tambahnya, mari kita evaluasi kembali ibadah puasa yang kita lakukan selama ini, apakah sudah menjadikan kita hamba yang benar-benar bertakwa kepada-Nya. Sudahkah puasa menjadikan kita hamba yang benar-benar semangat dalam meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada-Nya atau justru ibadah yang kita lakukan selama ini tidak memberikan bekas apa-apa pada diri kita, kita berlindung dari hal yang demikian.

Cara paling mudah mengetahui ibadah puasa kita diterima atau tidak oleh Allah Swt, dengan melihat semangat dan konsistensi kita dalam beribadah nanti setelah bulan Ramadhan. Jika terus semangat, menunjukkan bahwa ibadah yang kita lakukan selama bulan Ramadhan menjadi ibadah yang diterima. “Jika tidak konsisten, bisa jadi sebagai petunjuk bahwa ibadah kita selama ini belum maqbulah disisi Allah Swt,” tegasnya.

Imam Ibnu Rajab dalam Kitab Lathaiful Ma’arif, menjelaskan tentang tanda-tanda suatu amalan diterima oleh Allah swt, sebagai berikut: Artinya: Tanda-tanda diterimanya ketaatan adalah dengan konsisten terus beribadah setelahnya. Dan tanda-tanda ditolaknya ketaatan adalah dengan melakukan kemaksiatan setelahnya.

Tgk. Muhibuthibri menjelaskan, ibadah puasa sama halnya dengan ibadah shalat, pada ibadah tersebut Allah Swt menjanjikan kebaikan bagi orang-orang yang melakukannya, dan juga bisa meninggalkan setiap kejelekan dan keburukan bagi yang melakukannya. Namun demikian betapa banyak dari orang Islam yang melakukan shalat, tetapi masih saja berbuat kemaksiatan.

“Semua itu tidak lain disebabkan ketika melakukan shalat masih banyak aturan-aturan yang tidak terpenuhi. Begitu juga dengan puasa, jika puasa yang kita lakukan selama ini tidak bisa meningkatkan imunitas ketaqwaan kepada Allah, menunjukkan bahwa puasa yang kita jalani selama satu bulan ini ada salah, ada yang kurang baik, dan ada penghalang yang membuatnya tidak bisa meningkatkan ketakwaan,” urainya.

Ia memberikan contoh salah satu perbuatan yang bisa merusak terhadap ibadah puasa adalah perbuatan berbohong, berkata kotor, dan membicarakan keburukan orang lain, sebagaimana yang ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu haditsnya, yaitu: Artinya: Puasa adalah benteng, selama engkau tidak membakarnya. Para sahabat bertanya, dengan apa bisa membakarnya, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: dengan berbohong, berkata kotor, membicarakan keburukan orang lain, dan adu domba (HR An-Nasa’i).

Karena itu, di penghujung khutbah mantan Sekretaris Dinas Syariat Islam Aceh ini menyampaikan, dengan berpijakan pada hadits di atas, bisa kita koreksi kembali, sudahkah kita meninggalkan perbuatan-perbuatan yang bisa merusak pahala puasa di atas selama bulan Ramadhan ini.Jika sudah, tentu kita sangat bersyukur kepada Allah Swt yang telah memberikan kita pertolongan agar tidak terjerumus kepadanya. Dan jika tidak, maka tidak heran jika puasa tidak bisa memberikan efek positif sedikit pun kepada kita semua. (Sayed M. Husen)